Prinsip Desain Media Pembelajaran
Di dalam unsur-unsur senirupa dikenal adanya garis, raut, warna, ruang, tekstur dan gelap terang. Unsur tersebut juga muncul dalam sebuah desain media pembelajaran interaktif, sehingga kita dapat mengaitkan prinsip desain/seni rupa pada desain media pembelajaran. Beberapa prinsip yang dapat diaplikasikan dalam desain media pembelajaran antara lain :
1. Prinsip
Kesebandingan (Proporsi)
Kesebandingan
(proporsi) merupakan hubungan perbandingan antara bagian dengan bagian lain
atau bagian dengan elemen keseluruhan.
Kesebandingan dapat dijangkau dengan menunjukkan hubungan antara:
- Suatu elemen
dengan elemen yang lain,
- Elemen
bidang/ ruang dengan dimensi bidang atau ruangnya.
- Dimensi
bidang/ruang itu sendiri.
Dalam
sebuah media pembelajaran interaktif terdapat beberapa elemen. Secara umum
elemen yang terdapat pada pembelajaran interaktif antara lain :
- Antarmuka (User Interface) meliputi : tombol
navigasi, teks, dan elemen grafis di luar konten.
- Konten, merupakan
materi utama dalam media pembelajaran
- Audio
- Video/animasi
Setiap
elemen tersebut ditampilkan dalam proporsi yang berbeda. Untuk memenuhi prinsip
kesebandingan, harus diperhatikan ukuran output yang ingin dihasilkan. Untuk
output aplikasi desktop (komputer) ukuran elemen navigasi dapat dibuat antara
10-20% dari ukuran layar, dan materi yang ditampilkan berukuran 60 – 70%.
Berbeda dengan output untuk smartphone (handphone), dimana ukuran yang lebih
kecil menuntut proporsi navigasi yang lebih besar yaitu 15 – 25 % dari ukuran layar:
Gambar 17. Penggunaan
proporsi tombol dalam pembelajaran rambu lalulintas
untuk handphone
(Trifandianto, 2016)
Prinsip
utama dalam proporsi adalah setiap elemen dapat difungsikan dengan baik.
Misal, elemen teks diatur sedemikian rupa dari sisi ukuran dan jenis huruf agar
keterbacaannya tinggi.
Gambar 18. Keterbacaan yang
kurang baik pada media pembelajaran berbasis mobile/handphone (Trifandianto,
2016)
2. Prinsip
Penekanan (Emphasis)
Di dalam sebuah karya
desain/seni terdapat beberapa bahan atau gagasan yang lebih perlu ditampilkan
dari pada yang lain. Dalam penciptaan desain/seni tidak seharusnya elemen yang
ada menonjol semuanya, dalam artian sama kuatnya, sehingga terlihat ramai dan
informasi atau apa yang akan disampaikan akan menjadi tidak jelas.
Tampilnya emphasis merupakan strategi komunikasi yang bertujuan untuk mengarahkan pandangan pembaca pada suatu yang ditonjolkan. Emphasis dalam media pembelajaran dapat dicapai misalnya mengganti ukuran teks, menampilkan ilustrasi dengan proporsi yang lebih besar atau menggunakan warna yang berbeda untuk penekanan.
Gambar 19. Penekanan teks
MENGAJI pada halaman judul media pembelajaran (Rizkiana, 2016)
Gambar 20. Penekanan materi dengan cara membingkai materi dan
meletakkannya di pusat layar (Argaini, 2016)
3. Prinsip
Keseimbangan (Balance)
Keseimbangan dipengaruhi
berbagai faktor, antara lain faktor tempat posisi suatu elemen, perpaduan antar
elemen, besar kecilnya elemen, dan kehadiran lemen pada luasnya bidang.
Keseimbangan akan terjadi bila elemen-elemen
ditempatkan dan disusun dengan rasa serasi atau sepadan. Dengan kata
lain bila bobot elemen-elemen itu setelah disusun memberi kesan mantap dan
tepat pada tempatnya.
Bentuk keseimbangan yang sederhana adalah keseimbangan simetris yang terkesan resmi atau formal, sedangkan keseimbangan asimetris terkesan informal dan lebih dinamis.
Gambar 21. Keseimbangan
simetris pada desain media pembelajaran (Rizkiana, 2016)
Gambar 22. Keseimbangan
asimetris pada desain media pembelajaran (Fajrina, 2016)
4. Prinsip
Irama (Ritme)
Ritme terjadi karena adanya
pengulangan pada bidang/ruang yang menyebabkan kita dapat merasakan adanya perakan,
getaran, atau perpindahan dari unsur satu ke unsur lain. Gerak dan pengulangan
tersebut mengajak mata mengikuti arah gerakan yang terjadi pada sebuah karya.
Dari ritme dapat ditentukan
eyeflow atau arah baca sebuah desain. Secara umum arah baca suatu desain adalah
dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
Gambar 23. Unsur pengulangan membentuk ritme dan
eyeflow pada media pembelajaran (Argaini, 2016)
5. Prinsip
Keselarasan (Harmony)
Kondisi selaras atau harmoni
terbentuk karena tidak adanya pertentangan antara satu elemen dengan elemen
lainnya. Dalam desain untuk membentuk harmoni dengan dilakukan dengan
mengaplikasikan bentuk dan warna yang sama pada elemen sejenis dan menampilkan elemen
dengan penggayaan yang sama.
Gambar 24. Elemen yang selaras dari segi warna,
gaya desain dan proporsi (Pintaka, 2016)
6. Prinsip
Kesatuan (Unity)
Pada akhirnya prinsip
kesatuan adalah sebuah kohesi, konsistensi, ketunggalan atau keutuhan, yang
merupakan isi pokok dari komposisi. Prinsip ini akan tercapai jika
prinsip-prinsip sebelumnya telah diterapkan. Untuk mememenuhi prinsip kesatuan,
hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Menggunakan
hanya dua atau tiga type styles (jenis huruf) dengan ukuran yang memiliki
keterbacaan yang baik dan relatif sama di seluruh halaman media pembelajaran interaktif.
- Menggunakan
palet warna yang identik di seluruh halaman.
- Mengulang
warna, bentuk, atau tekstur untuk membentuk irama dan eyeflow
- Menggunakan
proporsi ukuran objek grafis yang baik dan peletakan yang teratur
- Menyediakan
ruang kosong untuk menghadirkan harmoni.
Gambar 25.
Kesatuan di tiap-tiap halaman media pembelajaran interaktif (Pintaka, 2016)
Thanks for reading Prinsip Desain Media Pembelajaran. Please share...!








